Oleh: Rere Nia Achmad for Nimas Putri Sabdojati | Oktober 25, 2010

Resensi Buku

buku "Ketika Allah Menguji Kita" menemani saya disela-sela pekerjaan kantor

buku "Ketika Allah Menguji Kita" menemani saya disela-sela pekerjaan kantor

Ketika Allah Menguji Kita

Manusia hidup pasti diuji dari arah mana pun. Ujian susah atau senang, ujian nikmat atau sengsara. Tapi, bagaimana manusia bisa bertahan hidup dengan ujian Allah? Teman baik saya, Alwi Alatas menulis ‘resepnya’ pada buku barunya yang berjudul “Ketika Allah Menguji Kita”.

 

 


Kata-kata yang dirangkai Alwi dalam buku ini begitu mudah dicerna dan tak perlu sampai mengerenyitkan dahi. Setidaknya untuk yang sedang menjalani ujian. Cukup rasakan isi pesan yang disampaikan dalam bukunya dan resapi contoh-contoh kisah nyata yang disuguhkan. Contoh kisah nyata itu yang mendorong kita untuk sadar bahwa ujian Allah bukan untuk dikeluhkan, tapi untuk dipelajari dan diambil hikmahnya. Secuil kisah-kisah dalam buku ini yang akan membuat kita terhenyak.

Saat membaca ‘Janganlah Bertawakal Pada Matamu’, saya membacanya beberapa kali. Mencoba memahami isi pesan dan bercermin pada diri sendiri, ‘Allah memberikan kebaikan bukan untuk bertawakal pada kebaikan itu, tapi bertawakal pada yang memberi kebaikan. Kebaikan yang kita terima dengan hati dan perbuatan yang berlebihan, bisa jadi akan membawa kita pada keburukan.’ Saya adalah orang yang memiliki keterbatasan, tapi dari sini Alwi membantu saya agar bersyukur bahwa Allah telah memberikan keterbatasan untuk menghindarkan saya dari keburukan. InsyaAllah….

Dilain halaman, Alwi mencoba melekatkan kita pada persoalan ‘mengeluh’ agar tidak menjadi pribadi yang mengeluh. Kita bisa belajar dari kisah hidup Jossette Ulibarri dan Nick Vujicic. Dia dilahirkan secara normal, tanpa anggota tubuh yang lengkap. Tanpa tangan dan kaki yang sempurna. Berkat perjuangan, dan kegigihan, mereka berdua bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang normal. Profesi yang biasanya ‘kuasai’ orang normal bisa diraih Nick.

Kita juga bisa melihat para difabel hebat di sekitar lingkungan. Ratna Indraswari Ibrahim adalah seorang penulis hebat, cerpen-cerpennya dimuat di media cetak nasional dan diterbitkan dalam bentuk buku, seorang aktivis. Beliau telah menginspirasi saya. Saya tidak pernah mengenal siapa beliau sebelumnya, mungkin karena saat berkunjung ke rumahnya, saya masih pelajar sekolah dasar. Saya hanya mengetahui Ibu Ratna mampu melakukan segalanya di atas kursi roda. Ataukah kita belajar dari Miyouke Inoue, gadis buta yang terlahir dengan bobot 500 gram. Meski buta, ia masih bisa ‘melihat’ dan menulis buku yang kemudian diterbitkan. Saya takjub dengan kemurahan Allah yang Maha Penyayang. Saya rasa, kita bisa harus mulai belajar untuk mengurangi keluhan dengan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

Buku ini mujarab untuk menjadi pengingat dan penyadar kita, tentang bagaimana harus menyikapi persoalan dan masalah. Alwi banyak mengupas tentang amanah, sabar, syukur, berusaha dan banyak lagi. Buku ini benar-benar membantu kita Ketika Allah Menguji Kita. (Rere Nia)

*Selamat untuk Mas Alwi atas buku yang luar biasa ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: