Oleh: Rere Nia Achmad for Nimas Putri Sabdojati | Maret 14, 2012

Dengan Aerobik, Aidah Sukses Meraih berbagai Prestasi

Pernah Jualan Sayur dan Bekicot, Kini Berlimpah Penghargaan

Semangat perempuan energik itu berbuah manis. Kegigihannya mengantarnya meraih keberhasilan.

Tepat tengah hari, dirumahnya yang sedang direnovasi, Desa Grogol, Wonoayu, perempuan berambut panjang itu tampak santai. Kaus ungu dan celana jins membalut tubuhnya yang tampak padat. Senyumnya begitu ramah. Foto –foto tanda prestasi menghiasi dinding rumahnya. Salah satunya foto dengan Mardiyanto, Mendagri Kabinet Indonesia bersatu jilid I. Ada pula foto kenangan bersama Nina Soekarwo, istri Gubernur Jatim Soekarwo. “Alhamdulillah, kesampaian juga harapan saya,” ujar Aidah, sang pemilik rumah. Perempuan yang dikenal sebagai pendiri Komunitas Nimas Putri Sabdojati itu telah mendulang peuluhan prestasi, dari tingkat lokal hingga nasional. Tapi semua itu tidak dicapai dengan mudah. Perempuan 44 tahun tersebut memulainya semuanya benar-benar dari nol. Keterbatasan biaya membuat dia menempuh berbagai upaya. Mulai dari buruh cuci, jual sayur, sampai mencari bekicot. Pada 1988, dia menikah dengan seorang prajurit TNI bernama Budi Wahono.

Sepuluh tahun kemudian, Aidah sudah punya tiga anak. Namun, saat itu suaminya tugas pendidikan bertahub tahun. Padahal, ketiga anaknya masih kecil. Aidah pun mengasuh sendirian anak anaknya. Dia pun berjualan sayur dan mencari barang bekas. Kalau mengandalkan gaji suami, tidak cukup.”Pernah harus makan nasi sama garam saja,”ungkapnya.

Sedikit demi sedikit, Aidah mencoba memperbaiki hidup. Hingga pada kelahiran anak terakhirnya, bobot tubuhnya naikhingga 85 kilogram. Dia pun coba coba latihan aerobik beberapa tahun hingga tubuhnya benar-benar ideal dan singset. Aidah pun berinisiatif menularkan pengalamannya. Dia mulai mengajar di Balongbendo. Honornya seminggu sekali Rp. 200 ribu.”Alhamdulillah, senang sekali walaupun capek,” ungkap anak kelima di antara tujuh bersaudara pasangan Muchayah dan Abdul Khamid (alm) itu.

Bukan sekedar senam aerobik, Aidah juga mengasah kemampuan mengobati berbagai penyakit dengan transfer energi. Kemampuan itu dia rasakan telah lama ada dalam dirinya sejak kecil. Banyak orang kemudian minta tolong kepadanya, dari masyarakat umum hingga penjabat. Dia menggabungkankemampuan aerobik dengan transfer energi untuk pengobatan. “Rasanya senang gitu lihat orang lain bisa tersenyum,” tutur perempuan yang kini mengisi talkshow di TV dan radio tersebut.

Aidah pernah meraih award dari media cetak untuk terapi penyembuhan lewat gerakan senam. Dia juga mendapatkan Kirana Award 2009 sebagai aktivis sosial. Pada  April 2011, Aidah menerima penghargaan Citra Kartini Award 2011 dari pemerintah.”Senangnya bukan main waktu dapat penghargaan itu,” kata perempuan yang profilnya masuk buku kumpulan profil perempuan hebat, Potret Kartini 2011, itu.

Seiring dengan berbagai prestasi tersebut karier Aidah semakin gemilang. Taraf kehidupanya pun terus meningkat. Dia mampu membeli rumah di perumahan Taman Surya Kencana, Grogol, Tulangan, Sidoarjo. ”Akhirnya kesampaian punya rumahsendiri, ucap dia. Ibu tiga anak itu juga senang karena putra pertamanya, Sandi Al mizan berhasil masuk TNI Angkatan Udara, ”Ini semua karena Allah,” ujarnya.

Publikasi : Jawa Pos, Rubrik Her Spirit, 2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: